https://journal.itera.ac.id/index.php/maximus/issue/feedMAXIMUS: Journal of Biological and Life Sciences2026-08-19T03:10:05+00:00Dr. Winati Nurhayu, S.Si.[email protected]Open Journal Systems<p><strong>Maximus: Journal of Biological and Life Sciences</strong> is a peer-reviewed and open-access journal that publishes original research across all biology and life sciences areas. A primary aim of the journal is to provide scientific information on the initial research results, focused on biological and life sciences cases such as plant and animal biology, genetic and microbiology, biotechnology, and social and environmental science, by publishing biannually<strong> in March and October.</strong> <strong>A manuscript on Sumatran biological resources will be strongly considered for publication.</strong> Maximus: Journal of Biological and Life Sciences is fully supported by the Biology Study Program of Institut Teknologi Sumatera.</p>https://journal.itera.ac.id/index.php/maximus/article/view/2715Prevalensi Ektoparasit pada Kucing di Klinik Hewan Bandar Lampung2026-07-10T02:55:17+00:00Andri Jaya Kesuma[email protected]Ananda Pramudita [email protected]Supriyadi Supriyadi[email protected]<p>Ektoparasit merupakan organisme yang hidup pada permukaan tubuh kucing dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti iritasi, anemia, hingga infeksi sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan jenis ektoparasit pada kucing di klinik hewan Bandar Lampung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain <em>cross-sectional</em> dan melibatkan 78 ekor kucing sebagai sampel yang dipilih melalui teknik <em>purposive sampling</em>. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan fisik langsung pada tubuh kucing, kemudian dilakukan identifikasi morfologi ektoparasit di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat jenis ektoparasit teridentifikasi, yaitu <em>Ctenocephalides felis</em>, <em>Otodectes cynotis</em>, <em>Lynxacarus radovskyi</em>, dan <em>Notoedres cati</em>. Ektoparasit dengan prevalensi tertinggi adalah <em>Ctenocephalides felis</em> sebesar 79,5%, diikuti oleh <em>Otodectes cynotis</em> (41%), <em>Lynxacarus radovskyi</em> (30,8%), dan <em>Notoedres cati</em> (16,7%). Tingginya prevalensi infestasi menunjukkan bahwa ektoparasit masih menjadi permasalahan kesehatan yang signifikan pada kucing di Bandar Lampung. Penelitian ini memberikan informasi dasar mengenai distribusi jenis dan tingkat infestasi ektoparasit sebagai bahan pertimbangan dalam upaya pencegahan dan pengendalian yang lebih efektif.</p>2026-04-30T10:48:39+00:00Copyright (c) 2026 Andri Jaya Kesuma, Ananda Pramudita , Supriyadi Supriyadihttps://journal.itera.ac.id/index.php/maximus/article/view/2722Identification of Harmful Algal Bloom-Causing Phytoplankton and Water Quality Status in Hurun Bay, Lampung, Indonesia2026-07-10T03:26:38+00:00FARAISHA PUTRI ARIANA[email protected]Novriadi Novriadi[email protected]Yanti Ariyanti[email protected]Jeane Siswitasari Mulyana[email protected]Gres Maretta[email protected]<p>Harmful algal blooms (HABs) are increasingly reported in coastal waters influenced by anthropogenic nutrient enrichment. This study aimed to identify phytoplankton genera potentially causing HABs in Hurun Bay, Lampung, and to evaluate the supporting physical-chemical water parameters. Sampling was conducted at three sites representing areas with intensive human activities: fish cage culture waters, coastal tourism zone, and harbor area. Phytoplankton samples were collected using vertical towing methods and identified microscopically, while water quality parameters included temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, nitrate, and phosphate. Nine phytoplankton genera associated with HABs were identified, dominated by Chaetoceros, Bacteriastrum, and Nitzschia. Nutrient concentrations indicated eutrophic conditions, while physical parameters remained within tolerance ranges for phytoplankton growth. The combination of elevated nutrients and suitable environmental conditions suggests that Hurun Bay has a high vulnerability to HAB events. Nutrient management and monitoring are therefore required to mitigate ecological and aquaculture risks in this coastal system.</p>2026-04-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 FARAISHA PUTRI ARIANA, Novriadi Novriadi, Yanti Ariyanti, Jeane Siswitasari Mulyana, Gres Marettahttps://journal.itera.ac.id/index.php/maximus/article/view/2730Estimasi Biomassa dan Stok Karbon Mangrove sebagai Upaya Mitigasi Perubahan Iklim di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung2026-07-10T02:56:31+00:00Mohammad Ashari Dwiputra[email protected]Rovida Pratiwi[email protected]Delilla Suhanda[email protected]<p>Ekosistem mangrove dikenal sebagai salah satu penyimpan karbon biru (<em>blue carbon</em>) yang paling efektif dan memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim global karena kemampuannya menyerap serta menyimpan karbon dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi biomassa dan stok karbon atas pada ekosistem mangrove di kawasan Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, Indonesia. Pengumpulan data lapangan dilakukan pada area mangrove seluas 9 ha yang dibagi menjadi tujuh stasiun pengamatan menggunakan plot transek berukuran 10 × 10 m. Estimasi biomassa dilakukan dengan pendekatan non-destruktif melalui pengukuran diameter setinggi dada (Diameter at Breast Height/DBH) dan dianalisis menggunakan persamaan allometrik spesifik spesies. Parameter lingkungan yang diukur meliputi salinitas, suhu, pH, kerapatan vegetasi, serta karakteristik pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan berada dalam kisaran optimal bagi pertumbuhan mangrove dengan salinitas 23–29 ppt, suhu 28–32°C, pH 6,5–7,5, serta pola pasang surut tipe diurnal. Kerapatan mangrove tergolong dalam kategori jarang hingga sedang. Estimasi biomassa atas berkisar antara 2,9–7,7 ton/ha dengan rata-rata 5,3 ton/ha, sedangkan stok karbon atas berkisar antara 1,3–3,5 ton C/ha dengan rata-rata 2,9 ton C/ha. Stasiun 2 menunjukkan kontribusi stok karbon tertinggi. Meskipun nilai stok karbon relatif lebih rendah dibandingkan beberapa ekosistem mangrove lainnya di Indonesia, ekosistem mangrove di kawasan BBPBL Lampung tetap memiliki potensi sebagai penyerap karbon pesisir dan mendukung strategi mitigasi perubahan iklim berbasis ekosistem.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> ekosistem mangrove, biomassa atas, stok karbon, karbon biru, mitigasi perubahan iklim</p>2026-05-31T11:30:27+00:00Copyright (c) 2026 Mohammad Ashari Dwiputra, Rovida Pratiwi, Delilla Suhandahttps://journal.itera.ac.id/index.php/maximus/article/view/2751Struktur Komunitas dan Keanekaragaman Burung Pantai di Pesisir Pantai Kasemen Serang Banten2026-07-10T04:45:06+00:00Yopi Haryandi[email protected]Aizul Rafdi Denanda[email protected]<p>Kawasan pesisir memiliki peran penting sebagai habitat bagi burung pantai, khususnya sebagai lokasi singgah bagi spesies burung migran. Namun, tekanan aktivitas antropogenik dan perubahan kondisi habitat pesisir berpotensi memengaruhi komposisi dan struktur komunitas burung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi dan kelimpahan spesies, variasi temporal, serta keanekaragaman dan struktur komunitas burung di Pesisir Kasemen. Pengamatan dilakukan pada bulan Januari dan Februari menggunakan metode penghitungan langsung (<em>direct count</em>) dengan pendekatan <em>ground count</em> pada habitat tambak dan pesisir Kasemen. Hasil penelitian mencatat total 36 spesies burung dari 19 famili. Jumlah individu yang teramati pada bulan Januari sebanyak 118 individu dari 28 spesies, sedangkan pada bulan Februari sebanyak 95 individu dari 26 spesies. Beberapa spesies menunjukkan kelimpahan tinggi, terutama <em>Egretta garzetta</em>, diikuti <em>Plegadis falcinellus</em> dan <em>Ardeola speciosa</em>. Selain itu, teridentifikasi delapan spesies burung yang dilindungi berdasarkan Permen LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 Tahun 2018. Kelimpahan burung pantai menunjukkan variasi temporal dengan jumlah individu yang lebih tinggi pada bulan Januari dibandingkan Februari. Nilai indeks keanekaragaman menunjukkan komunitas yang relatif stabil, dengan nilai <em>Shannon-Wiener</em> (H’) berkisar 2,81–2,91, kemerataan 0,84–0,89, dan indeks Simpson 0,91–0,93. Secara keseluruhan, kawasan Pesisir Kasemen memiliki peran ekologis penting sebagai habitat burung, termasuk dalam mendukung burung migran pada jalur <em>East Asian–Australasian Flyway</em>. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan habitat yang berkelanjutan untuk menjaga keberlanjutan komunitas burung di kawasan tersebut.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Yopi Haryandi, Aizul Rafdi Denandahttps://journal.itera.ac.id/index.php/maximus/article/view/2701ANALYSIS OF INSECT DIVERSITY ON PARI ISLAND, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA2026-08-19T03:10:05+00:00Dwi Sri Wahyuni[email protected]Yayu Kurniawati [email protected]Alma Mustika Shafi Azzahra[email protected]Indah Ayu Dwiastuti[email protected]Salwa Putri Naswati[email protected]Muhammad Bagir Nurullah[email protected]Lufty Hari Susanto[email protected]Meilisha Putri Pertiwi [email protected]<p>Insect diversity is an important indicator for assessing environmental conditions in coastal ecosystems. This study compares the structure of insect communities in two different habitats on Pari Island: the homestay area (Location A) and the mangrove area (Location B). Samples were collected using sticky traps, pitfall traps, and direct searches (time searching). Community parameters were analyzed using the Shannon–Wiener diversity index (H’), evenness (E), dominance (D), and the Sørensen similarity index (Cs). The results show that Location A contained 14 individuals from four families, while Location B contained 54 individuals from four families. Both locations exhibited moderate diversity levels, with H’ values of 1.03 in Location A and 1.04 in Location B. High evenness values (E = 0.74 and E = 0.75) indicate a balanced distribution of individuals among families. Dominance was higher in Location A (D = 0.46) than in Location B (D = 0.40), suggesting greater ecological pressure in the residential area. The Sørensen similarity index (Cs = 0.32) reflects low to moderate similarity between the two communities, influenced by microhabitat variation and differences in vegetation structure. Overall, the coastal habitat supported higher insect abundance than the residential area, although both sites showed moderate diversity and high evenness. These findings highlight the important role of microhabitat conditions and human activities in shaping insect community composition on Pari Island. </p> <p>Keywords: insect diversity, coastal habitat, community structure, dominance, evenness, similarity index</p>2026-08-19T03:10:05+00:00Copyright (c) 2026 Dwi Sri Wahyuni, Yayu Kurniawati , Alma Mustika Shafi Azzahra, Indah Ayu Dwiastuti, Salwa Putri Naswati, Muhammad Bagir Nurullah, Lufty Hari Susanto, Meilisha Putri Pertiwi